Tuesday, July 17, 2018

Berjuang Antri Demi 3 Box Nasi Bungkus Aja Nyerah, Apalagi Berjuang Demi Cinta?


Sepayah itulah saya, ketika mendengar seorang gadis manis membutuhkan bantuanku, Maka sebagai seorang pria sejati tak ada alasan untuk menolak permintaannya. Kebetulan saat itu si gadis manis yang tak sengaja bertemu disebuah even meminta bantuan untuk diambilkan 3 box nasi kotak yang tersedia di acara tersebut. Sebuah permintaan yang cukup mudah, pikirku. Namun yang terjadi sungguh diluar perkiraan, begitu sampai di stand penyedia nasi kotak, pemandangan yang nampak disitu seketika melunturkan semangat perjuanganku demi untuk membuat tersenyum si gadis manis yang kalau dilihat dari samping ya emang agak mirip sih dengan Natasha Rizky, (Alah sopo meneh kui).

Antrean penuh sesak berisikan manusia tanpa sejengkal jarak barang setengah meter sekalipun. Syedih rasanya, tapi mau bagaimana lagi, sekali lagi saya tegaskan, adalah tugas seorang lelaki untuk selalu memenuhi permintaan seorang gadis yang sedang membutuhkan. (Opo meneh wonge manis banget) 

Yosh! Semangat berkorban kembali membara, dengan penuh perjuangan akhirnya aku bisa masuk kedalam kerumunan yang berisikan makhluk-makhluk kelaparan pemburu gratisan ini. Jengkal demi jengkal langkah kaki mulai bergerak mendekati stand yang menyediakan nasi box.

Tapi ya emang dasar sial, rintangan kembali muncul, pas hanya tersisa 4 orang lagi didepanku, mendadak dengan lantang panitia berkata

"Nasi Habis! Nunggu komando nasi berikutnya baru diambil"

 O...lhabajinguk ik! Tiwas antre soko mburi desek-desakan!

Maka tak ada pilihan lain selain menunggu nasinya diambik. Baiklah, tinggal ngambil aja mungkin nggak akan lama, batinku. Tapi...

---- 16 menit 46 detik kemudian ----

Keadaan masih belum berubah bahkan menjadi lebih buruk, semakin malam rupanya makin banyak orang yang antri. Makin tambah sesak dan "syumuk", mana ibu-ibu yang berdiri didepanku gendut banget lagi, dengan punggungnya yang lebar itu membuat pandanganku jadi terhakang, sementara mas-mas yang dibelakang terdengar asik bercanda-mesra terus sama pacarnya.

"Yang sini lho pindah depanku sambil tak peluk". Bisik si mas-mas itu ke pacarnya.

"Lha itu ada masnya didepanmu gitu ok Yang". Jawab si cewek sambil nunjuk kearahku.

"Nggak apa-apa wong nggak lihat kok, angger sini lho" 

Si cewek nurut terus pindah yang awalnya disamping jadi kedepan lalu dipeluk dari belakang. (Duh mas ono sing ngganjel)

Lalu bagaimana dengan nasibku? Ya, otomatis tempatku berdiri saat ini jadi makin sesak. Dengan ibu-ibu gendut berpunggung lebar didepanku sementara yang belakang mas-mas alay yang suka sange disembarang tempat terus menerus memamerkan kemesraan dibelakangku. (haissshh punya tit*t kok suka lepas kendali!)

Beberapa menit berlalu, keadaan setengah neraka ini tak juga kunjung berakhir, nasi pun belum ada tanda-tanda akan datang. Dan kondisi sesak ini malah membuatku jadi pengen pipis. Tahan...tahan... 

Dalam hati aku mbatin (wahai tit*tku yang bijaksana, please tahan sebentar lagi... oke, jangan keluar sekarang)

Karena nggak mungkin disaat seperti ini ditinggal ke toilet, Ya percuma dong perjuangan ngantri dari tadi kalau ditinggal ke toilet pasti posisi dalam antrian yang hanya tinggal menunggu 4 orang ini bakal langsung disikat sama makhluk-makhluk kelaparan dibelakangku.

Saat kondisi tak jua membaik, tiba-tiba aku ingat kalau salah satu temanku adalah Event Organizer diacara ini, kali aja kalau WA dia terus minta diambilin nasi boxnya bakal langsung dapat. Secerca harapan sempat muncul.

"Bro posisi?"

Salah satu kalimat basa-basi ter-hits ketika orang mau minta bantuan atau nembung utang lewat WA. 4 menit WA terkirim 7 menit di read dan 19 menit kemudian barulah dia mengetik pesan. (Udah kayak nungguin balesan chat gebetan yang bertepuk sebelah tangan aja)

Klonthang! Notif Hpku bunyi ada WA masuk. Temanku membalas

"Ning alun-alun lagi ada acara, pye?" Balesnya

"Lha yo podo Bro, iki aku ning acaramu lagi ngantri sego gratis"

Besar harapanku kalau balasannya bakal begini "Wealah rak usah ngantri, reneo nang mburi tenda tak jupukno langsung"

Namun ekspektasi seringnya timpang dengan kenyataan, beliau yang terhormat hanya membalas dengan singkat:

"Oke sip, budayakan antri sejak dini" 

O... lha wasyu! Rumangsane aku iki isih cah PAUD po?!

Oke aku tahu dia hanya bercanda, dan usut punya usut dari lanjutan Chat WA kami, rupanya dia tidak ditempatkan dibagian nasi box makanya nggak ada yang bisa dilakukannya untuk membantu kesulitanku.

"Ya Tuhan, sesulit inikah menyenangkan hati perempuan?" Keluhku yang mulai kehilangan semangat lagi. Nasi masih belum ada tanda-tanda akan muncul sementara sedari tadi nahan pipis nampaknya si "Otong" pun sudah mulai lelah, jadi kasihan. Yawislah, Persetan dengan antrian, yang penting nyari toilet dulu buat pipis.

Akupun keluar dari antrian dan menuju masjid mencari toilet sekalian sholat Isyak. Selesai sholat pas aku cek Hp rupanya ada 1 DM Instagram masuk, ternyata dari si gadis manis yang udah nungguin dan bertanya kenapa pesanannya lama sekali datangnya.

Bingung dan malu nggak tahu aku harus bales apa.

Duhdek kangmas gagal mengemban misi penting darimu. Kangmas malu sekali sebagai seorang lelaki kangmas ini benar-benar sudah gagal. Maka sudah tak ada gunanya lagi kangmas hidup didunia ini!!!

Oke cukup! baiklah, lanjut.

Aku mencoba berpikir tenang, dengan 2 kemungkinan. Pertama kembali ngantri dan masuk kedalam situasi setengah neraka tadi ataaaaaaaau BELI!!! iya beli kenapa nggak terpikirkan dari tadi sih. Padahal kalau beli mungkin tugas ini sudah selesai dari tadi. Yah, jenenge wong bingung yo harap maklum.

Merasa masih ada harapan untuk membuat si "manis" tersenyum, akupun dengan segenap rasa tanggungjawabku mencoba mencari warung makan yang ada didekat sini. Dengan berjalan kaki menyusuri jalanan setapak demi setapak namun masih tak terlihat satupun warung makan yang menjual nasi kotak. Duh padahal kaki dah pegel banget, kemana lagi nyari nasi kotak yang aku saat itu buatku mungkin lebih berharga ketimbang segepok emas.

Lagi-lagi, tidak jernihnya pikiran menyesatkanku. Lhawong namanya orang lapar meh nasine kotak utowo jajaran genjang yo mesti di caplok. Kok aku malah terobsesi nyari nasi kotak. Pantesan susah, malam-malam gini siapa juga yang mau jual nasi kotak. Palingan bakso, mie ayam atau sate-lah umumnya. Kampret buang-buang waktu tenan, sementara si gadis manis sudah kelaparan menungguku. Goblok banget sih aku iki, padahal dari tadi dihadapanku ada warung nasi padang, kenapa juga musti muter keliling alun-alun sampai gempor kaki Roger Danuarta ini.

Baiklah, nasi padang bungkus dan mari kita makan bersama si gadis manis yang bahkan aku juga belum tahu namanya. Pokoknya sebagai lelaki sejati mau kenal atau nggak kalau ada gadis yang butuh pertolongan, adalah tugasku untuk menolongnya.  Weitsss.... malah koyo Cu Patkay?

Akhirnya saat yang ditunggu datang, semua capek, semua kekesalan, semua emosi dan semua kebingungan terbayar lunas dengan nikmatnya menyantap nasi padang ditengah alun-alun sambil sesekali mencuri pandang ke arah si gadis manis yang kalau lama-lama ngelihatinnya, asli bisa bikin diabetes.

Namun sayang, momen menyenangkan memang tak bisa berlama-lama untuk ditahan. Belum juga nasi padangnya habis, hujan pun turun hingga membuat aku terpaksa harus menyelesaikan momen indah itu lebih cepat dari yang aku harap.

Mulai dari situ kami pun berpisah dengan tanpa tahu nama satu sama lain. Meski begitu, tetap saja yang tadi barusan sangat indah. Beratnya perjuangan hingga berakhir dengan melihat senyuman gadis manis yang belum kutahu namanya. Ya, senyuman manis 180 drajat yang tetap akan terlihat manis meski dilihat dari berbagai sudut pandang manapun.

Ditulis oleh: Sigit Putranto

No comments:

Post a Comment

CONTACT

Follow by Email