Sunday, May 13, 2018

Tumpahan Kekesalan Terhadap Aksi Terkutuk Bom Bunuh Diri di 3 Gereja di Surabaya


Siapa manusia normal yang tak tersentak hati nuraninya ketika mendengar kabar tentang tragedi yang kembali melukai Ibu Pertiwi.

Hari ini, Minggu 13 Mei 2018, serentak 3 tempat ibadah umat Nasrani menjadi sasaran sebuah mesin pembunuh yang rusak. Mesin pembunuh yang rusak itu membantai siapapun dihadapannya termasuk dirinya sendiri. Potongan tubuh manusia berserakan, bangunan gereja luluh lantak dan ketakutan dengan sangat cepat menyebar ke masyarakat. Sakit aku bilang! dan semakin sakit karena belakangan beredar informasi bahwa dalang semua ini adalah salah satu kelompok sebuah agama bersifat radikalis. Sialnya, mereka membawa nama agama yang juga salah satu agama yang selama ini saya percayai, Agama Islam yang mulia. Dengan lancang mengaku bahwa mereka bertindak atas nama kebenaran dalam membela agama Islam.

Demi Allah-ku Tuhanku satu-satunya yang Maha Agung. Jika Allah memang mengajarkan umatNya agar membantai semua manusia yang tidak menyembah-Nya, maka sebaiknya saya tidak pernah mengenal Allah dan agama sekalian. Tapi sepanjang yang aku tahu, Islam yang diajarkan Ibuku tidaklah begitu, Allah yang diperkenalkan Ibuku sejak aku kecil itu adalah karakter yang penuh welas asih, Agamaku adalah mutlak kebaikan bukan sebuah golongan atau kelompok yang menjunjung terlalu tinggi paham-paham didalamnya hingga menjadi pembenaran dalam merampas hak hidup orang lain.

Sebagai orang bodoh saya cukup beruntung karena masih dapat membedakan baik dan buruk. Lebih beruntung dari mereka yang mengaku telah melahap habis semua ilmu agama lantas kemudian merasa menjadi orang yang terpilih sebagai penentu siapa-siapa yang layak masuk syurga dan siapa yang harus dikirim ke neraka secepatnya.

Jihad atas namanya? Hakh! Jangan membuatku tertawa!!! Ini bukan medan peperangan seperti pada era Baginda Nabi dan para Sohabatnya, pada masa itu Baginda Nabi menegakkan kekuasaan Islam atas dasar kebenaran bukan menegakkan kebenaran atas dasar Islam. Seenaknya mereka berfantasi seolah-olah sedang berada pada zaman Khilafah dan membantai manusia yang bahkan tak pernah mengibarkan bendera peperangan terhadapnya.

Saya hanya kesal namun tak ingin banyak-banyak lagi menumpahkan kekesalan dan rasa marah saya karena saya sadar dengan kondisi saat ini saya tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi sebagai orang bodoh, saya dengan pemikiran terbodoh-pun tahu sesuatu tentang menghargai sesama manusia karena itu sangat mudah dilakukan. Baiklah, mari kita coba berlogika saja sebagai orang bodoh. Mereka (Korban Bom) adalah Nasarani yang sedang melaksanakan ibadah Misa minggu pagi, itu berarti mereka adalah penganut agama yang taat. Dan bayangkan jika mereka itu Muslim, berarti mereka juga adalah Muslim yang taat. Bukan hanya itu, jika mereka taat terhadap agamanya sudah bisa dipastikan mereka adalah orang-orang baik, karena setahu saya, semua agama di Indonesia pada dasarnya semuanya sama, yaitu mengajarkan sebuah kebaikan laku mereka dibantai oleh sekumpulan orang yang lebih bodoh dari saya yang sedang berfantasi atau bahkan berhalusinasi seolah-olah sedang berada disebuah medan peperangan. Astaga, sejak kapan nyawa manusia jadi semurah itu.


Ditulis oleh: Sigit Putranto

1 comment:

  1. Pengecut dan bodoh. Itu yang pas buat para teroris itu. Anak kecil jadi korban

    ReplyDelete

CONTACT

Follow by Email