Tuesday, May 1, 2018

Permen Davos, Generasi Jajanan Legendaris Yang Masih Eksis

Bentuk yang selalu konsisten dari permen Davos
Hallo apa kabar kalian para pembaca khilaf yang sering mampir maupun yang kebetulan entah bagaimana bisa nyasar kesini, semoga kalian baik-baik saja dan selalu dalam lindungan-Nya ya. Baiklah, kali ini saya disini akan sedikit mengajak kalian bernostalgia dan kembali ke era tahun 90-an dimana saat itu saya sendiri masih dalam masa-masa dimana masih bisa merasakan bagaimana indahnya dunia tanpa harus mengerti arti sakitnya cinta tak terbalas, (Hakh!!!). Ya, Karena menurut saya masa ternikmat dalam kehidupan itu adalah masa anak-anak.

Oke, jika kalian seumuran dengan saya (Kelahiran '89) mungkin diantara kalian ada yang pernah memakan atau cuma sekedar melihat karena tak mampu beli salah satu jajanan legend satu ini. Permen Davos, permen mint putih berbentuk bulat pipih dengan bungkus kertas berwarna biru tua, (ini masih ngomongin permen ya bukan teori konspirasi bumi datar). Samar terkenang dibenak saya, dulu tiap abis makan permen itu kemudian minum air, rasanya sudah seperti ngemut pucukan gunung Everest, dingin banget. Dan disitulah keseruannya, sebagai anak Ndeso yang gak pernah nyentuh salju bahkan sampai sekarang, tiap makan permen Davos saya sudah merasa seperti pernah hidup di negara yang punya 4 iklim.

Permen Davos buat saya dulu itu tergolong jajanan mewah yang butuh 4 hari untuk anak dengan uang jajan pas-pasan seperti saya menyisihkan uang hanya untuk beli 1 bungkus yang isinya 5 butir. Dan ketika sudah berhasil kebeli, selalu saya bergegas pulang kerumah untuk segera menyembunyikan dan menjauhkan si permen dari jangkauan teman-teman saya. Bukan saya pelit, saya hanya mencoba sedikit balas dendam saja karena saat mereka punya, mintapun saya nggak dikasih. Entah saking mewahnya tuh permen saat itu hingga saya pun memakannya dengan teknik pengiritan, per separuh butir saya emut sambil main sama temen, separuhnya lagi dimakan nanti karena takut cepat habis. Astaga betapa mengenaskannya saya saat itu.

Bentuk isi permen Davos

Nah soal permen Davos sendiri nih, ternyata masih bisa kita jumpai di jaman sekarang ini. Sebuah eksistensi yang patut diapresiasi mengingat jajanan se-generasinya macam Anak Mas, Gulai Sapi atau Coklat Choky-choky telah punah dan mutlak mereka kini hanya menjadi sebuah kenangan yang pernah menemani kami para generasi 90-an.

Entah apa rahasianya hingga permen Davos dapat mempertahankan keberadaannya hingga saat. Padahal jika diperhatikan, nyaris tak ada inovasi baik dari segi bungkus, bentuk permen hingga rasanya. Dari dulu ya tetap masih gitu-gitu aja. Pemasarannya pun seakan dilakukan dibawah tanah, nyaris tak terdengar gaungnya. Tak sekalipun saya melihat mereka memasang iklan di TV atau di papan reklame samping-samping jalan. Berbeda dengan jajanan jaman sekarang yang hampir tiap tahun melakukan inovasi entah dari rasa, desain bungkus maupun periklanannya.

Tampilan klasik permen Davos

Padahal semakin majunya jaman yang berbarengan dengan kemajuan teknologi pun demikian dengan industri membuat persaingan didunia perdagangan kian ketat. Berbagai produk dengan brand baru mulai bermunculan dan menawarkan inovasi-inovasi terkini yang siap menegaskan diri sebagai penantang merk-merk jajanan legenda yang telah lama eksis di dunia perjajanan tanah air.

Peperangan didunia perdagangan maupun industri tersebut pastilah tak akan lepas dari sisi Advertising atau periklanan. Brand baru seringkali muncul dengan berbekal identitas yang kuat mulai dari segi desain bungkus, konsep iklan di TV maupun jargon-jargon kreatif yang dapat dengan mudah menyihir para konsumen agar selalu mengingat merk mereka. Sedang merk lama, mereka biasa mengandalkan kebiasaan-kebiasaan yang terlanjur tertanam dan melekat erat dikalangan konsumennya. Namun tak jarang pula merk lama pun turut mengikuti perkembangan jaman demi menjaga kelangsungan eksistensinya.

Anehnya, itu tidak dilakukan oleh perusahaan pembuat permen Davos. Saya terkadang heran hingga muncul pertanyaan kurang ajar dibenak saya, sebenarnya mereka itu niat jualan nggak sih? Atau jangan-jangan tujuan mereka memprodukai permen Davos itu cuma iseng aja? Benar-benar sebuah misteri yang sungguh mengurangi 5 menit jatah tidur saya karena memikirkannya.

Ditulis oleh: Sigit Putranto

7 comments:

  1. Punyamu lebih mantap masbro,, hehe

    ReplyDelete
  2. Blog personal juga bang? Kunjungin balik bang ke blog gue www.novanpevari.com

    ReplyDelete
  3. permen ini memang legend gan!,dan semoga agan juga bisa menjadi legend sama seperti permen ini tapi di dunia blogging, amin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih doanya. Saya amini saja mas hahaha

      Delete
  4. Jadi ingat masa kecil dulu sering nyolong permen ini dari si mbah 😢 kembalikan masa itu

    ReplyDelete

CONTACT

Follow by Email