Sunday, May 20, 2018

Kisah Si Mbah Tukang Tambal Ban Sang Penyelamat Ibadah Puasa Saya


Siang itu disebuah perjalanan yang tidak terlalu panjang (karena hanya menempuh jarak dari Klambu - Purwodadi saja), mendadak saya jadi merasa sedang berada ditengah-tengah kebimbangan antara meneruskan perjuangan berpuasa atau menyerah atas teriknya matahari yang makin menyiksa kerongkongan ini. Wajar saja, untuk seseorang yang level keimanannya masih kalah tebal dibanding selembar Opak Ketela, saya seringkali goyah ketika menghadapi secuil godaan yang datang menghampiri.

Hampir disepanjang perjalanan, berjajar dikanan dan kiri jalanan berbagai warung makan yang tak segan-segan membuka lapaknya bahkan dibulan suci Ramadhan ini. Sebagian bahkan ada yang terang-terangan memajang dagangannya hingga terlihat jelas dari jalan walau kendaraan dalam kondisi melaju kencang. Barisan es campur, es degan dan kroni-kroninya seperti melambai mesra dan memanggil nama saya. "Mas Sigit mari mampir mas, silahkan minum aku" Aaarrrgh dasar es degan biadab! mereka bahkan bisa sampai tahu namaku.

Mencoba mengacuhkannya dan akupun berhasil. Namun ternyata rintangan puasa itu tak hanya sebatas godaan saja. Usai lolos dari godaan es Degan dkk saya langsung berurusan dengan cobaan yang bernama terik matahari. Jika godaan bisa saya atasi dengan mudah, tapi tidak dengan cobaan ini. Mencoba mengacuhkannya, tapi kondisi kerongkongan yang kering tak bisa dibohongi hanya dengan menelan ludah. Terlebih, cobaan ini lantas berkolaborasi dengan godaan tadi. "Jika panas membuat kerongkongan kering maka minumlah segelas es degan dingin dengan sirup Kartika merah yang manis dan segar". Bisik setan dikepala saya.

Dalam kondisi bimbang saya mencoba mencari setitik penawar harapan dengan melihat jam dan berharap waktu agar cepat berlalu. Namun ternyata sedari tadi waktu malah berasa berhenti di angka 12 lebih 45 menit. Sialnya inilah waktu dimana saya merasa tidak akan rugi jika saya membatalkan puasa sekarang karena saat berbuka masih lama.

Sedang dilanda kebimbangan yang teramat berat, tiba-tiba saja ban sepeda motor yang saya naiki bocor. Emang dasar setan bisa aja caranya buat menyesatkan hamba, ndilalah kok ya bocornya pas didepan warung soto jowo. Karena iman saya belumlah selevel para ulama dan sohabat Nabi, nyaris saja saya singgah kewarung soto yang dari luar saja aroma kuahnya sudah bikin saya ngiler, ditambah suara dentingan gelas yang beradu dengan sendok dan es batu pertanda orang sedang mengaduk-aduk segelas es teh segar, semakin membuat batin saya tersiksa.

Baiklah, jika memang sampai disini saja pertahanan iman saya maka maafkan hamba Ya Allah, batinku waktu itu. Namun baru saja akan menuntun sepeda motor ke arah warung soto tadi, tiba-tiba saja pandangan saya teralihkan kearah dimana ada sebuah bengkel tambal ban yang ternyata lokasinya tak jauh juga dari posisi saya ke-ban-an tadi. Pantas saja saya tak menyadarinya, jika dilihat-lihat si tukang tambal ban tersebut hanya membuka lapaknya dibawah pohon waru tanpa ruangan ataupun papan iklan yang menunjukkan bahwa itu adalah bengkel tambal ban. Disana hanya ada sebuah ban mobil bekas serta alat tambal ban sederhana disampingnya.

Sayapun kemudian berpikir untuk menambalkan ban motor saya dulu kemudian sambil nunggu saya akan makan diwarung soto tadi. Akhirnya saya menuntun motor saya menuju bengkel tambal ban yang jaraknya hanya sekitar 10 meter dari tempat ban saya bocor. Sesampainya dibengkel, si pemilik terlihat tak ada ditempat. Saya coba panggil-panggil dan mencarinya kesekeliling namun justru tukang becak yang sedang mangkal didekat situlah yang menjawab panggilan saya.

"Wonge nembe sholat mas, ditunggu aja dulu"  kata si tukang becak.

Ya sudah akupun bersedia menunggunya. Dan tak berselang lama terlihat seseorang yang saya pikir sudah sangat tua mungkin umurnya kisaran 70-75 tahun berlari tergesa-gesa ke arah saya sambil memegangi peci dan sarungnya. Ternyata dialah si tukang tambal ban yang saya tunggu-tunggu.

"Pripun mas? Ajeng nambalke?" (Gimana mas mau nambal ban?) Kata kakek tukang tambal ban.

"Njih pak, ini ban belakang saya bocor, kena paku kayaknya"

Usai meletakkan sarung dan pecinya, si kakek dengan sigap memeriksa ban motor saya.

"Wah iya ini kena paku mas" kata kakek itu sambil menunjukkan lokasi paku yang menancap di ban motor saya.

"Bisa ditambal kan mbah? Gak harus ganti ban?" Jawabku

"Bisa mas, tenang aja" jawab si kakek.

Mendengar jawaban si kakek saya sedikit lega, lantaran jika harus ganti ban budget didompet saya bakal berkurang cukup banyak, dan keperluan utama saya ke Purwodadi untuk membeli sesuatu bisa-bisa tertunda.

Sambil menambal ban motor saya, si kakek pun mengajak saya mengobrol. Mulai dari bertanya saya dari mana hingga sampai menjelaskan tentang ban saya yang ternyata sudah 3x mendapatkan tambalan dan sebaiknya harus segera diganti. Si kakek ini orangnya asik dan pandai bercanda. Karena keasyikan ngobrol saya jadi melupakan keinginan untuk makan diwarung soto tadi. Bahkan dalam salah satu topik obrolan saya dengan si kakek tukang tambal ban ini beliau sempat menyinggung tentang beratnya rintangan dalam menjalani ibadah puasa. Si kakek juga berpesan agar seberat apapun rintangannya, selagi kita masih dalam kondisi sehat jangan sampai kalah dan membatalkan puasa. Jujur saya merasa tersindir dan malu mendengar ucapan kakek tersebut.

"Mas'e muslim kan?" Tanga si kakek.

Entah kenapa tiap orang yang belum kenal saya meraka selalu mengira saya ini non muslim hanya karena wajah saya yang katanya mirip orang Cina.

"Muslim mbah" jawabku.

"Berarti puasa kan?"

"Iya mbah insyallah puasa"

"Memang kalau orang lagi puasa itu ya rintangannya ada-ada saja mas, ya seperti ban bocor ditengah perjalanan seperti ini, padahal cuaca juga panas sekali" ujar si kakek.

Si kakek kemudian melanjutkan "tausiahnya" dengan menceritakan tentang kehidupan sehari-harinya. Siapa sangka, selain nambal ban si kakek juga seorang kuli pengangkut sayur dan buah-buahan di pasar Purwodadi. Jadi si kakek membuka bengkel tambal ban-nya usai dari bekerja di pasar. Si kakek bilang dari sehabis sahur kemudian sholat subuh, beliau sudah standby dipasar menunggu mobil pengangkut sayuran datang. Beliau menjadi kuli panggul dipasar biasanya selesai hingga jam 9 pagi kemudian barulah beliau membuka bengkel tambal ban. Bayangkan saja, dari habis sahur beliau langsung tancap gas memulai aktifitas yang mengeluarkan tenaga berat dengan kondisi fisik yang sudah renta dan beliau masih kuat menjalankan puasa.

Mendengar fakta tersebut saya menjadi semakin malu saja. Saya yang masih muda dan tak memiliki aktifitas seberat si kakek saja bahkan nyaris menyerah dan membatalkan puasa hanya karena melakukan perjalanan yang tak terlalu jauh bahkan untuk bisa disebut Musyafir pun belum pantas. Saya sempat merenungkan tindakan saya yang berniat membatalkan ibadah puasa saya.

Sungguh betapa besarnya keagungan Allah yang telah memberikan saya petunjuk dan pertolongan langsung ditengah-tengah kebimbangan dan godaan para setan. Dari ban yang bocor hingga kemudian kisah si kakek tua penambal ban yang secara otomatis membuat keimanan saya beberapa centi menjadi lebih tebal. Disitu saya benar-benar merasakan fakta bahwa petunjuk Allah itu nyata adanya bagi orang-orang yang menyadarinya. Dengan hati yang lebih mantap untuk melanjutkan puasa saya pun bepamitan dengan si kakek penambal ban. Saya mengucapkan terimakasih dari mulut namun dalam hati saya benar-benar menyampaikan jutaan rasa hormat kepada beliau yang tanpa sengaja telah menjadi pencerah di perjalanan saya untuk mencapai RidhoNya dibulan suci ini.

Ditulis oleh: Sigit Putranto

No comments:

Post a Comment

CONTACT

Follow by Email