Tuesday, April 17, 2018

Mas Muklis, Tukang Sosis Yang Keberaniannya Melebihi Takiya Genji


Bukan Takiya Genji yang nekat melawan ribuan orang seorang diri di film Jepang "Crows Zero" atau Ahmad Dhani yang terang-terangan menantang pemerintah yang sedang berkuasa saat ini, seseorang yang menurut saya pantas disebut "Lanang Wani Mati" (Lelaki Berani Mati).

Siang itu secara tak sengaja saya bertemu seorang yang memiliki keberanian yang bahkan keberanian Genji ataupun Dhani tak layak disejajarkan dengan keberaniannya.

Adalah Mas Muklis 46 tahun, seorang pengusaha dibidang kuliner namun ia lebih suka disebut tukang sosis goreng keliling, sebuah bentuk tahu diri yang patut diapresiasi. Memiliki seorang istri bernama Mbak Jum yang terkenal killer, bringasan dan doyan makan orang tak peduli sedang PMS atau tidak beliau tetap saja mengerikan. Kemudian dikaruniai 2 orang anak perempuan yang solehah, jauh dari hingar bingar media sosial karena sedang nyantri di sebuah pondok pesantren. Semua itu tak lantas membuat sisi ke-liar-an mas Muklis sebagai seorang pria menjadi terkekang.

Dengan sangat lantang dan terang-terangan beliau mengekspresikan impian terselubungnya kedalam sebuah stiker di body motor tunggangannya yang setiap hari setia menemaninya mengais rizki. Honda Astrea Grand, motor tua yang nyaris punah itu ia tempel stiker bertuliskan "Wani Wayoh" yang dalam bahasa Indonesia berarti Berani Mendua. Sungguh sebuah level keberanian yang nyaris menyentuh level keberanian Iblis saat menentang perintah Tuhan. Bagaimana tidak? Istrinya, Mbak Jum adalah tipe istri senggol bacok yang lihat suaminya mengirim komentar di status Facebook perempuan saja langsung mandek segala jatah, baik jatah malam maupun makan.

Beliau bercerita bagaimana kisah saat pertama kali memasang stiker, saat itu terjadi pergejolakan batin yang dahsyat dimana resiko terburuknya adalah biduk rumah tangganya yang akan menjadi korban. Namun dengan keteguhan dan keberaniannya niat mengekspresikan mimpi terbesarnya dengan stiker tersebut akhirnya nekat ia laksanakan. Saat itu seperti biasa ia bertarung dengan teriknya matahari dalam melaksanakan rutinitasnya menjajakan sosis goreng. Ditengah perjalanan kemudian ia berhenti dilapak seorang tukang stiker yang mangkal dipinggir jalan lahan milik pemerintah. Ia memesan stiker sekaligus meminta untuk dipasangkan ke motornya, sebuah stiker kata-kata yang telah lama terkonsep didalam benaknya.

Setelah stiker terpasang, beliau melanjutkan tugas mencari nafkahnya dan kembali bertarung dengan teriknya matahari, namun kali ini ia merasa memiliki kekuatan lebih. Entah kenapa stiker itu seperti menambah semangat dan rasa percaya dirinya, teriknya matahari pun tak lagi dianggap sebagai penggangu baginya dalam mengais rizki.

Bukan lantas lancar saja saat pertama kali menempelkan stiker tersebut, ia tahu dan sadar bahwa nyawanya terancam jika Mbak Jum membaca tulisan di motornya. Sesampainya dirumah apa yang ia takutkan terjadi, sebenarnya selama perjalanan pulang ia telah menyusun berbagai strategi untuk menghadapi amukan Mbak Jum. Namun apes bagi Mas Muklis, belum juga strateginya matang, ia kepergok Mbak Jum ditengah jalan saat sang istri tengah belanja diwarung tetangga. Mbak jum yang berada di warung tetangga melihat Mas Muklis melintas usai jualan menuju kerumah mereka.

Dengan tatapan mata penuh amarah terpendam dan siap diletupkan dalam sekali semprotan Mbak Jum pulang kerumah, langkahnya lebih cepat dari saat berangkat, tangannya mengepal, mulutnya meruncing layaknya Naruto saat akan berubah ke mode Bijuu.

Perasaan tidak enak telah dirasakan Mas Muklis yang juga telah menyadari jika Mbak Jum melihatnya dari warung tetangga tadi. Dengan segera ia menurunkan grobak jualannya dari motor kemudian mencari lokasi teraman untuk menanti eksekusi dari Mbak Jum. Ia memilih ke belakang rumah dengan maksud agar para tetangga tak mendengar amukan Mbak Jum yang bisanya bisa menembus sampai dinding rumah para tetangga. Mendengar pintu rumah terbuka, Mas Muklis seakan merasa kematian sudah diubun-ubunnya. Dengan menarik nafas panjang, ia membaca Bismillah bersiap menghadapi amukan Mbak Jum.

Mas! Motormu kamu kasih tulisan begitu maksudmu opo? Kepengen punya istri lagi hah?! Silahkan saja kalau berani! (Sambil melotot dan mengacungkan kepalan tangan).

"Kamu lepas itu tulisan sekarang atau tak bakar motormu! teriak Mbak Jum penuh emosi.

Mas Muklis hanya gemetar, tertunduk tak berani menatap mata Mbak Jum yang seolah ingin menelannya selonjoran. Namun bukan Mas Muklis namanya kalau hanya diam dan tak memikirkan cara untuk menenangkan amukan Mbak Jum. Saya ini pawangnya je, hanya saya yang bisa menjinakkan kebuasan istri saya. Begitu pikir Mas Muklis dalam hati.

Disela-sela ketakutannya itu mas Muklis berusaha untuk tetap tenang dan berpikir jernih, kemudian terlintaslah sedikit keberanian untuk mengucapkan sepenggal kalimat penenang.

"Dek Jum sayang, sek to dengarkan penjelasanku dulu." Ucap Mas Muklis seraya mencoba memberanikan diri untuk menatap mata istriya yang sedang dalam mode Bijuu itu.

"Penjelasan opo lagi? sudah jelas kalau memang kamu itu dari dulu kepengen punya istri lagi. lha ini malah terang-terangan nempel stiker begitu, Memangnya aku kurang opo mas?" Lirih mbak Jum yang mula-mula marah kemudian menjadi melankolis yang awalnya matanya melotot seram kini jadi berkaca-kaca."

Ternyata tatapan mata Mas Muklis memang ampuh, itu sedikit meredakan amarah Mbak Jum hingga membuatnya hampir menangis. Biar bagaimanapun Mbak Jum itu memang mencintai Mas Muklis dan sebaliknya, kalau tidak mana mungkin lahir kedunia 2 putri solehah yang nyantri di Pondok Pesantren tadi.

Tak mau menyia-nyiakan momen langka itu Mas Muklis dengan segala jam terbangnya dalam menghadapi perempuan kemudian mengeluarkan jurus penjinaknya. Dia peluk Mbak Jum sambil megusap-usap kepalanya. Mendapat perlakuan hangat itu Mbak Jum tak kuasa lagi menahan air matanya, semua ia tumpahkan. Kekesalan, amarah dan rasa cemburu ia curahkan bersama tetesan air matanya. Jam terbang memang tak bisa dibohongi, melihat mbak Jum yang menjinak, Mas Muklis lantas menjelaskan apa maksud dan tujuan ia memasang stiker dengan tulisan "Wani Wayoh" di motornya, dengan sedikit bumbu kebohongan tentunya. Ia berkata:

"Dek Jum, Maksud mas memasang stiker itu bukanlah menunjukkan keinginan pribadi mas untuk menduakan kamu, percayalah. Wani Wayoh (Berani Mendua) di stiker motor mas itu ya pengennya mas punya motor lagi, moyor yang baru itu juga but dek Jum, jadi si Astrea Grand itulah yang sebenarnya mas duakan, bukan dek Jum yang sangat mas cintai ini" Ucap Mas Muklis sembari lubang hidungnya mengkap-mengkap.

Mendengar penjelasan Mas Muklis itu perlahan Mbak Jum menjadi adem, amarahnya sirna, air matanya mengering. Meski masih sesekali sesenggukan namun senyum mulai tergambar diwajahnya. Melihat itu Mas Muklis pun merasa lega bukan main, dalam hatinya berkata "Aman... aman" sambil senyum-senyum jahat.

Dengan dloghog dan nggak tahu diri, kini Mas Muklis bahkan berani menyuruh mbak Jum untuk membuatkannya segelas kopi. Dan mbak Jum sendiri tak menolak perintah suaminya tersebut.

Maka begitulah kenapa hingga kini stiker "Wani Wayoh" itu masih tetap aman terpampang disepeda motornya itu.

Wayoh atau mendua memang telah lama menjadi impian besar Mas Muklis, namun yang sebenarnya beliau juga menyadari bahwa impian itu mungkin memang selamanya hanya akan menjadi sebuah mimpi, sebab ia sadar dengan kondisi kehidupannya baik dari segi ekonomi maupun tampilan fisik. Tak pantaslah orang seperti saya yang menghidupi 2 anak dan 1 istri saja sudah menggos-menggos apalagi kakau ditambah 1 istri lagi. Itulah kenapa ia hanya mencurahkan impian nakalnya selama ini melalui sebuah stiker yang ditempelkan di sepeda motornya.

Daripada terus-terusan memendamnya bisa-bisa hanya akan jadi penyakit, iya kan? Katanya mengakhiri perbincangan kami.

Ditulis oleh: Sigit Putranto

6 comments:

  1. Bravo mas muklis impian besarmu semoga terwujud ya hahaha

    ReplyDelete
  2. Lha admin kapan mendua, satu aja blm terlaksana wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya berkembangbiak dengan membelah diri kak, menyatu aja cukup ����

      Delete
  3. Cita cita yang sangat mulia, semoga kita semua bisa meneladani beliau....wkwkwkkwk

    ReplyDelete

CONTACT

Follow by Email