Saturday, April 14, 2018

Bapak Tak Sempat Memberiku Bekal


Apa yang bisa kamu lakukan ketika masih berumur 5 tahun kemudian kehilangan sosok Bapak yang meninggal karena kecelakaan? Tidak ada, sepertiku aku bahkan tidak merasakan kesedihan, aku tidak menangis aku hanya merasa saat itu suasana rumahku begitu berisik, semua orang-orang dewasa menangis memeluk dan menciumku. Aku benar-benar tak tahu ada apa dan kenapa yang pasti aku merasa tidak nyaman dengan suasana itu. Aku mencari ibuku namun sama saja, beliau juga nampak menangis bahkan sesekali pingsan.

Entah itu sebuah keberuntungan atau hanya kesialan yang tertunda. Aku sebut keberuntungan karena aku tak bisa membayangkan bagaimana diriku jika Bapak pergi saat aku sudah dewasa dan pastinya aku akan lebih banyak memiliki kenangan bersamanya, maka jelas aku juga akan sama depresinya dengan ibuku saat itu dan mungkin bisa lebih parah lagi karena aku adalah orang yang membenci perpisahan. Lalu beruntunglah aku karena saat itu aku masih belum mengerti apapun dan tak merasakan kesedihan hebat yang dirasakan ibuku.

Meski aku sebut itu keberuntungan, namun jelas itu bukanlah sebuah keberuntungan yang aku inginkan, Maka aku lebih memilih menyebutnya sebagai kesialan yang tertunda. Kau tahu kenapa? Karena aku baru merasakan dampaknya saat aku telah beranjak dewasa. Kehidupanku sulit, ibuku bekerja keras namun selalu saja tidak pernah cukup karena selain aku ibu juga harus menghidupi kedua adikku. Sialnya, adikku yang paling kecil tidaklah tumbuh sesempurna aku dan itu semakin memperburuk kehidupan kami.

Suatu hari keputusan berat terpaksa diambil oleh ibuku, beliau memilih untuk mengadu nasib mempertaruhkan nyawa untuk bekerja keluar negeri sebagai TKW. Saat itulah aku benar-benar mulai membenci sebuah perpisahan. Aku masih SD dan ibu satu-satunya orang tuaku harus pergi jauh dengan waktu yang sangat lama. Aku menangis sejadinya, aku merasa kehidupan ini sangat tidak adil. Aku menyayangi ibuku aku tidak mau sesuatu terjadi padanya saat berada disana ditempat yang mutlak diluar jangkauanku. Namun itulah keputusannya, keputusan yang terpaksa harus diambil demi aku dan adik-adikku karena kami semakin tumbuh dewasa dan pastinya kebutuhan hidup semakin bertambah. Namun saat itu aku masih SD, aku masih anak-anak, dan aku tak memiliki cukup kekuatan untuk mengerti keadaan kami. Aku hanya marah kepada Tuhan dan bertanya kenapa? apa salah kami? bukankah kami juga hambaNya? bukankah kami juga rajin beribadah?

Ibu menitipkan kami bertiga dibawah asuhan nenek. Beliau tak kalah luar biasa hebatnya dengan ibuku, hanya saja beliau tak memiliki pendidikan yang cukup untuk mengajari kami tentang pelajaran, membantu mengerjakan PR bahkan beliau tidak bisa menandatangani rapor kami karena memang tak bisa menulis atau membaca. Namun beliau memiliki ketegasan yang luar biasa, melindungi kami dan berkorban dengan sangat tulus dalam mengasuh kami. Nenek adalah oasis yang diberikan Tuhan ditengah berat dan terjalnya jalan kehidupanku. Nenek menjadi rumahku saat aku lelah dengan kehidupan dan takdirku.

Meski semua ini berat, tapi aku akan tetap melanjutkan hidupku. Bapak memang terlalu cepat pergi meninggalkanku dan tak memberikanku bekal untuk menjalani kehidupan yang berat ini, namun bapak selalu ada dihatiku. Aku tahu beliau melihatku dari sana beliau menangis bila melihat aku menderita, beliau mendoakanku ketika aku dalam kesulitan dan beliau memelukku ketika aku lelah dan ingin berhenti saja dari tugas berat menjalani kehidupan yang sudah digariskan oleh Tuhan ini. Aku tahu semua itu pak, aku juga tahu bahwa jenengan juga melihatku saat aku menulis ini air mataku mengalir deras merindukanmu.

Maturnuwun Bapak.

1 comment:

CONTACT

Follow by Email