Monday, April 30, 2018

Bang Inul Dan Kisah Sang Pemulung Yang Dituduh Maling Pacul

Keterangan Foto: Bang Inul saat menyiapkan pesanan Bakso Bakar
Malam itu saya berniat untuk keluar rumah untuk sekedar ngopi dan menikmati suasana malam yang lagi cantik-cantiknya karena sedang disinari cahaya bulan purnama yang terlihat bulat sempurna. Saat sedang asyik menikmati secangkir kopi hitam panas sembari main HP, melintaslah Bang Inul "Bakso Bakar" yang ternyata memang sedang dalam perjalanan pulang usai menjajakan dagangannya.

Tanpa pikir panjang saya pun memberhentikannya bermaksud untuk membeli beberapa tusuk bakso bakar sebagai pendamping minum kopi. Dan saya cukup beruntung, meski dalam perjalanan pulang, dagangan bakso bakarnya ternyata masih tersisa. Kemudian saya pun memesannya. Sambil menunggu bakso bakar yang saya pesan siap, saya sedikit mencoba membuka obrolan dengan Bang Inul.

(Obrolannya sih dalam Bahasa Jawa, tapi berhubung Blog saya ini berbahasa wajib Indonesia, jadi saya tulis pakai Bahasa Indonesia saja ya).

"Tumben masih bang dagangannya, lagi sepi ya?" Tanyaku

"Yah Alhamdulillah mas, sepi ramai disyukuri saja yang penting hasilnya barokah" Kata Bang Inul yang terlihat sok ikhlas.

"Emang keliling kemana aja Bang tadi?" Tanyaku lagi.

"Lah, enggak keliling kemana-mana mas, cuma mangkal aja di Pasar Malam tadi" Jawab Bang Inul

(Memang waktu itu di Desa Kami sedang ada hiburan Pasar Malam)

"Oh iya ya, ada keuntungannya juga dengan adanya pasar malam ya bang, jadi gak usah capek-capek keliling"

"Iya mas, sekalian itung-itung membiasakan diri jualam malam, kan bentar lagi bulan puasa"

Tak berselang lama, bakso bakar pesanan saya akhirnya pun sudah matang.

"Mas, ini baksonya dah siap" Kata Bang Inul sembari mengisikan saus kedalam bungkusan plastik bakso bakar pesanan saya.

"Oke bang, wih mantep ini sambil ngopi ngemilnya Bakso Bakar" jawabku.

Setelah selesai membereskan gerobak dagangan dan mematikan kompor pemanggang, saya kira Bang Inul bakal langsung cabut pulang, eh ternyata dia juga pengen ikut-ikutan menikmati indahnya malam dengan bulan purnamanya yang terang benderang. Sayapun menawarkan untuk memesankan kopi kepadanya, meski awalnya menolak, namun dengan sedikit paksaan akhirnya saya berhasil meyakinkan Bang Inul agar mau menerima kopi yang saya pesankan. Nggak enak dong, masa saya ngopi sendirian sementara teman ngobrol disamping saya cuma kebal-kebul ngisep rokok.

Perbincangan yang sempat terhenti tadi mau tidak mau akhirnya berlanjut. Hingga pada sebuah topik obrolan, Bang Inul menceritakan kisah perjalanan hidupnya yang cukup panjang sebelum akhirnya mantap memilih menjadi pengusaha kuliner Bakso Bakar keliling ini. Mendengar beberapa kisahnya, saya benar-benar tidak menyangka, Bang Inul yang berperawakan kecil dan kurus ini memiliki segudang pengalaman hidup yang menurut saya sarat akan makna dan hikmah yang terkandung didalamnya. (Haishhh)

Salah satunya adalah ketika ia pernah mencoba profesi sebagai seorang pengepul sampah atau yang biasa orang sebut Tukang Rosok. Saat itu seperti biasa Bang Inul mencari beberapa sampah yang sekiranya memiliki nilai jual jika dibawa ke pengepul. Karena memang biasanya sampah yang memiliki nilai jual itu adalah jenis sampah rumah tangga, maka Bang Inul pun menetapkan lokasi pencarian sampahnya disekitar lingkungan warga.

Bersenjatakan karung sak dan besi bengkok serta sebuah magnet bergagang kayu, Bang Inul pun siap untuk memulai petualangannya dalam mengais sisa-sisa sampah yang dianggap orang sudah tak berguna dan dibuang. Namun ketika tengah asyik dengan kegiatan pungut-memungutnya, ditengah perjalanan saat melintasi persawahan tiba-tiba ia dipanggil oleh seseorang yang jika dilihat dari perawakannya beliau adalah seorang petani yang sudah cukup tua.

"Woy Kang! Berhenti dulu!" Teriak si Kakek.

Awal dipanggil sih Bang Inul acuh saja sebab cara memanggil si kakek petani tadi sedikit dirasa kurang nyaman didengar nadanya. Perasaan tidak enak juga mulai dirasakan Bang Inul.

"Woy! Kamu bisa berhenti nggak!, dipanggil orang tua malah ngloyor aja!" Si kakek tambah kenceng manggilnya.

Sadar akan menjadi masalah jika si kakek diacuhkan, Bang Inul pun akhirnya menghentikan langkahnya.

"Pripun mbah? ada apa?" Akhirnya Bang Inul menanggapi panggilan si kakek

Dengan mengepalkan tangan si Kakek pun segera menghampiri Bang Inul dengan langkah yang semakin cepat.

"Bongkar semuanya! Karungmu itu bongkar sekarang!" Bentak si Kakek dengan nada penuh emosi.

"Lha ada apa to mbah? kok sampean tiba-tiba marah dan nyuruh saya bongkar isi karung, salahku apa?" Tanya Bang Inul dengan polosnya.

"Pokoke bongkar sekarang! Bongkar semua isinya!" Teriak si kakek semakin marah karena merasa disepelekan.

"Sampean itu gimana, memangnya nggak repot apa bongkar isi karung segini banyaknya, sudah saya tata rapi pula". Bang Inul masih santai menanggapi si kakek yang sudah mongot-mongot.

"Wis rausah kakean omong! Pokoke kudu kamu bongkar karungmu sekarang!" Si kakek masih ngotot.

Menyadari bakal nggak selesai-selesai urusan kalau terus ngeyel, akhirnya Bang Inul bersedia untuk membongkar semua isi karungnya.

"Ya wis iya mbah ini tak bongkar, nih lihat sampean mau nyari apa? Lihat yang bener, ini semua sampah mbah nggak ada TV nggak VCD apalagi Kulkas!" Teriak Bang Inul jengkel.

Si kakek pun memeriksa dengan seksama satu per satu barang yang keluar dari karung tidak ajaib milik Bang Inul.

Merasa yang dicarinya nggak ada, si kakek pun melirik ke arah lain, akhirnya si kakek merasa menemukan apa yang dia cari ada disamping Bang Inul.

"Lha ini apa! Maling kamu! Gentho lucen kamu!" sambil menunjuk sesuatu disamping Bang Inul.

Bang Inul pun jadi merasa bingung, sebenarnya barang apa yang dimaksud si kakek hingga menuduh Bang Inul mencuri.

"Opo to mbah? Aku maling opone sampean?" Tanya Bang Inul heran.

"Lha iki opo! Iki paculku, tanganmu clothak! Pengen tak potong-potong lenganmu opo pye hah?!" Teriak si Kakek penuh emosi serasa ingin menelan Bang Inul secara utuh.

Ternyata yang dimaksud si kakek adalah pegangan magnet milik Bang Inul yang memang dikasih pegangan mirip dengan gagang pacul. Karena bagian magnetnya tertutup rumput, si kakek tidak sadar kalau itu sebenarnya bukan pacul melainkan magnet untuk mengambil sisa-sisa paku atau besi yang berserakan dijalan.

Merasa tuduhan si kakek itu keliru, gantian Bang Inul yang jadi emosi. Dengan perasaan jengkel karena dituduh dan dikatai maling, gentho dan sejenisnya, Bang Inul lantas mengangkat gagang magnet miliknya kemudiam membantingnya tepat dihadapan si kakek.

"Ini bukan pacul mbah! Lihat, kalau perlu sampean pegang biar percaya. Daripada pacul, ini malah lebih mirip sama cakram rem motor, kenapa ndak sekalian saja sampean tuduh saya maling motor tapi cuma tak ambil rem cakramnya saja! Lah kok kurang gawean men saya ini to mbah!" Teriak Bang Inul dipenuhi rasa jengkel.

Si kakek yang akhirnya menyadari bahwa dia keliru jadi terdiam sendiri dan bingung mau berkata apa. Mau pura-pura bilang "yak disana ada kamera, terus disana juga. Kamu masuk dalam acara oops salaaaaaah!" Kan nggak mungkin. Tapi emang dasarnya si kakek "nyamin" bukannya menyadari kesalahan atau minta maaf, malah sok-sokan ngandani.

"Makanya kang, kalau mau bikin pegangan buat magnet jangan dari gagang pacul, kan bisa itu bikin dari tali tambang atau pakai kayu bambu. Jangan bikin orang jadi salah sangka sama kamu kang."

Mendengar itu, Bang Inul yang sudah naik pitam jadi semakin dibikin geregetan sama si kakek.

"Mau dari gagang pacul kek, dari setang motor kek atau dari cagak rumah sekalipun, itu bukan urusan sampean mbah! Jangan karena saya ini pekerjaannya cuma tukang rosok, jumputi sampah kotor terus sampean berpikir saya ini juga suka jumputi barang orang. Saya memang ngambil barang orang, tapi itu yang sudah nggak terpakai atau yang sudah dibuang. Mbah dengerin, sebenarnya justru saya ini sudah nolong sampean juga lho mbah, kalau paku atau kawat dijalan ndak saya jumputi bisa kena kaki sampean atau kena ban motor orang yang lewat gimana? Mau sampean kena paku terus titanus, jadi koreng dan nggak bisa nyawah lagi?!".

Dengan tegas dan mongot-mongot Bang Inul mencoba mengungkapkan rasa mangkelnya sama si kakek rese itu. Setelah panjang lebar mendengar ucapan Bang Inul, akhirnya si kakek terlihat mulai sadar. Beliau menyesal telah menuduh Bang Inul sebagai maling pacul. Dengan meminta maaf kemudian si kakek pun izin untuk pamit pergi.

Dari cerita Bang Inul tersebut, saya jadi berpikir, betapa dipandang rendahnya sebuah profesi yang justru sebenarnya sangat halal dan jelas memberi dampak positif langsung ke masyarakat. Hal itu bisa dilihat jelas, jika sampah diambil, otomatis lingkungan pun jadi bersih.

Bahkan saya menilai, profesi pemulung itu dampak positifnya jauh lebih banyak buat masyarakat,  ketimbang profesi yang dianggap "terhormat" dan memikul tanggungjawab besar dengan mewakili rakyat. namun pada kenyataannya yang diwakili hanya bagian senangnya saja. Giliran susah, rakyat sendiri yang menanggungnya. Tidak perlu saya sebutkan, saya yakin kalian pasti sudah tahu profesi apa yang saya maksud.

Sebenarnya masih banyak kisah perjalanan hidup Bang Inul yang diceritakan kepada saya malam itu, namun saya sengaja hanya akan menulis kisah yang ini karena memang saat ini masih banyak sekali saya melihat bagaimana pola pikir masyarakat yang menganggap atau menilai sebuah profesi hanya dari bagaimana ia berpenampilan. Jika ia rapi, berjas dan berdasi maka ia akan dihormati, sebaliknya saat mereka melihat penampilan yang lusuh, kumuh dan kotor mereka akan dipandang rendah bahkan penuh dengan kecurigaan tak berdasar seperti kisah diatas tadi.


Ditulis oleh: Sigit Putranto

1 comment:

CONTACT

Follow by Email